Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Misalkan Kita di Myanmar

ANDAI kita ada di Myanmar. Kita akan menyaksikan
ribuan biksu berjalan beriringan sambil meneriakkan
pekik kebebasan. Kita akan menyaksikan sebuah parade
dan ikhtiar kedamaian yang hendak terbang tinggi dan
lepas bagai merpati. Di tengah terik matahari yang
memanggang, biksu itu laksana lautan air bah berbaris
rapi sambil mendengungkan seruan damai. Di hadapan
senjata dengan laras panjang dan siap memuntahkan
peluru, biksu seakan tak kenal takut dan siap meregang
nyawa. Amitabha….

Sepekan ini, aku benar-benar takjub melihat keberanian
para biksu itu. Mereka bergerak dengan hanya
mengenakan selembar kain berwarna merah dan membelah
arus utama kota Yangoon. Kepala mereka botak. Matanya
menatap lurus kedepan. Ada keteduhan sekaligus
keberanian memancar di situ. Keteduhan sebagaimana
yang dipancarkan Siddharta Gautama, puluhan tahun
silam, ketika tubuhnya membiaskan cahaya pencerahan.
Keberanian sebagaimana telah dipancarkan para biksu
yang banyak menjadi martir untuk sebuah jalan terang:
jalan pencerahan, jalan nirwana.

Aku pernah sekali menyaksikan iring-iringan para
biksu. Mereka kulihat beriringan di dekat Candi
Borobudhur sebagai bentuk ritual menjelang hari
Waishak. Tubuh mereka dipanggang terik matahari dan
hanya berselempangkan kain merah. Mereka memegang
rantai tasbih dengan batu yang berukuran lebih besar
dari yang dipunyai orang Islam. Mereka berjalan sambil
merapal doa tertentu dengan bibir bergetar.

Namun pemandangan di Myanmar sangatlah berbeda dengan
itu. Di sana, ada keberanian serta harapan yang
menjulang tinggi. Mungkin yang lain akan melihatnya
sebagai perkara biasa, namun tidak bagiku. Ini
bukannya Islam, yang punya tradisi pekik radikalisme
serta keberanian memasang bom di tubuh kemudian
meledakkannya hingga tubuh berkeping-keping demi
melapangkan jalan ke surga. Ini juga bukan Kristen
yang membasahi kanvas sejarah dengan kisah pertarungan
yang begitu heroik demi membendung Islam di ajang
Perang Salib. Baik Islam maupun Kristen sama-sama
punya kisah tentang peperangan besar dan mencatat
sejumlah pahlawan besar dari setiap denyut peperangan.
Keduanya sama berkeyakinan kalau kematian adalah jalan
terbaik untuk menggapai Tuhan yang kokoh berada di
alam lain.

Tapi ini adalah Budha, yang begitu teduh dan
memancarkan sorot mata penuh kasih sayang. Sejarah
umat Budha adalah sejarah yang ditorehkan dengan penuh
cinta kasih dan kehati-hatian. Budha adalah prototipe
hidup dari manusia sempurna yang sanggup meruntuhkan
bangunan hawa nafsu demi mencapai ketenangan. Amarah
laksana banteng liar yang harus ditundukkan. Seiring
dengan itu, sebuah jalan menuju bahagia seakan
terbentang dan Sang Budha menitinya dengan penuh
ketenangan.

Aku tak pernah mendengar para biksu ikut dalam
berbagai peperangan besar. Paling jauh, hanyalah kisah
para biksu dalam film Hongkong yang menguasai bela
diri sebagaimana biksu kuil Shaolin. Tak pernah kubaca
kisah para biksu yang berada di tengah gemuruh dan
dentum sebuah peperangan. Jalan yang ditempuh Budha
adalah jalan penuh kata damai. Aku juga tak pernah
mendengar ada biksu yang mendirikan partai politik
atau organisasi massa terbesar. Paling jauh hanyalah
kisah Dalai Lama yang berani menentang rezim komunis
di Cina demi menegaskan eksistensi Tibet sebagai kota
penuh spiritualitas yang harus dikelola dengan cara
berbeda. Namun, tak pernah ada episode di mana
pemimpin spiritual itu mengangkat senjata dan menempuh
perjuangan bersenjata. Ia tak pernah menyatakan makar
atau kudeta demi menjadi pemimpin yang duduk di
singgasana bagai raja. Semua jejak langkahnya adalah
jejak kedamaian dan tetap dalam titian sang Budha
yaitu menghindari hawa nafsu dan kekerasan.

Tak pernah pula kudengar ada biksu yang menjadi
anggota dewan atas nama umat Budha. Biksu adalah
mahluk yang selalu menjauhkan diri dari segala
tetek-bengek politik. Bahkan tak ada biksu yang
berdemonstrasi sambil mengutuk organisasi lain.
Bagiku, semua biksu dan penganut Budha adalah mereka
yang mendedikasikan hidupnya untuk mencapai
ketenangan. Mereka yang berikhtiar untuk menggapai
Nirwana dan hidup tenang sembari menaklukan amarah dan
hawa nafsu.

Namun, biksu di Myanmar, telah membenturkanku dengan
realitas kalau kesabaran para biksu itu selalu saja
ada batasnya. Berada di tempat aman, namun selalu
menyaksikan penindasan dan pemberangusan kebebasan,
bukanlah pilihan yang menyenangkan. Jika belakangan
ini para biksu berani keluar dari persemayamannya di
kuil-kuil, maka tentu saja ada satu perkara besar yang
harus diperjuangkan. Perkara besar itu jelas terkait
dengan nasib orang banyak yang selama ini ditindas.
Mereka keluar dengan damai. Melalui iring-iringan yang
panjang itu, mereka hanya ingin meneriakkan pada dunia
akan indahknya kebebasan. Mereka berani karena
didorong oleh semangat: bahwa Budha selalu bersama
setiap langkah kaki mereka……

(Yusran Darmawan)

 from kosmik_uh@yahoogroups.com 

PERTAMA kalinya aku naik ojek sepeda. Pengalaman itu cukup mengasyikkan. Ternyata, ada begitu banyak hal-hal yang sepele bagi sebagian orang, namun cukup mengasyikkan ketika dilakukan. Kesimpulan itu kudapat setelah hari ini aku menumpang ojek sepeda dan menempuh jarak sekitar dua kilometer, dari Stasiun Kota menuju Mal Mangga Dua di Jakarta Utara.

 

Sungguh!! Awalnya aku tidak terlalu tertarik. Entah kenapa, kemarin saat aku turun dari kereta di Stasiun Kota, tiba-tiba aku tertarik melihat barisan sepeda tua yang berjajar rapi di dekat stasiun. Hey!!! Jangan bayangkan sepeda itu berbentuk sepeda balap modern. Jangan pula bayangkan seperti sepeda listrik yang sering digunakan Jubir Presiden, Andi Mallarangeng, di sekitar istana. Semua bayangan itu keliru. Bentuk sepeda yang kunaiki itu agak kuno, seperti sepeda yang biasa digunakan pada tahun 1960-an. Sepeda itu berwarna hitam, memiliki lampu depan dan bisa dinyalakan dengan baterai atau dinamo. Waktu aku kecil di Pulau Buton, sepeda itu sangat populer dan sering kusaksikan. Kalau tak salah, warga kampung menyebutnya sepeda kumbang. Ada juga yang menamakannya sepeda unta, sebab bentuknya agak tinggi dan ketika dinaiki, kerap terdengar suara berderit-derit serta bergoyang. Kata orang kampungku, serasa mengendarai unta. Entah, apa mereka udah pernah naik unta.

 

Kini, sepeda kumbang itu menjadi barang langka yang jarang disaksikan di jalan-jalan utama kota. Sepeda itu seakan-akan kehabisan napas ketika bersaing dengan angkutan yang lebih modern seperti sepeda motor. Di kota Yogyakarta, sepeda justru menjadi alat transportasi utama dari  pedesaan menuju kawasan urban atau perkotaan. Petani kerap membawa poduk hasil pertaniannya dengan sepeda untuk dijual ke kota. Namun di Kota Jakarta, sepeda hanya terlihat di jalan-jalan tertentu. Memang, belakangan ini ada kampanye di kalangan profesional untuk ke kantor dengan mengendarai sepeda. Tetapi tetap saja sepeda menjadi barang langka di tengah deru angkutan bermotor. Apalagi seepda kumbang.

 

Kelangkaan sepeda itu, menyebabkan pengalamanku naik ojek sepeda itu jadi hal yang sungguh mengasyikkan. Jika diperhatikan, sepeda yang dijadikan ojek ini sudah mengalami modifikasi berupa penambahan jok tipis seperti layaknya sepeda motor. Jadinya, penumpang sepeda akan merasa lebih nyaman. Tukang ojeknya sangat sopan ketika diajak bernegosiasi harga. Ia tidak menyebut angka tinggi-tinggi, melainkan menyebut harga standar dari Stasiun Kota ke Mangga Dua. ”Yah, cukup tiga ribu saja deh,“ katanya dengan sedikit memelas. Yup… murah banget!!! Aku langsung setuju dan menaiki bagian belakang.

 

Rata-rata tukang ojeknya berusia lanjut dan mengenakan kopiah. Meski sempat pula kulihat beberapa orang anak muda, namun jumlahnya tidak begitu banyak. Pantas saja jika gaya komunikasinya untuk mengajak calon penumpang terkesan adem-ayem dan tidak seheboh pengemudi angkutan umum atau ojek motor. Mereka hanya duduk saja dengan sepeda dan menunggu penumpang. Saat itu, aku berpikir kalau si tukang ojek itu agak minder dengan kenderaan lain. ”Bukannya minder Nak. Tapi, kita punya pelanggan tersendiri. Mereka yang rumahnya di gang-gang sono tuh,“ kata Bang Jali, tukang ojek sepeda yang kunaiki sembari menunjuk lorong-lorong di dekat stasiun.

 

Usut punya usut, ternyata Bang Jali sudah lebih dua puluh tahun menjalankan profesinya. Menurutnya, jumlah pengendara ojek sepeda kian menyusut sepanjang tahun sebab tidak banyak anak muda yang cukup percaya diri untuk menjalankan profesi itu. Pantas saja jika rata-rata tukang ojek sepeda sudah berusia lanjut. Namun, pria asli Betawi, yang kalau ngomong punya logat kayak Mandra ini, mengaku bangga dengan profesinya. ”Jelek-jelek gini, anak gue udah gue sekolahin berkat narik ojek sepeda,” katanya dengan penuh kebanggaan. Iya deh……

 

Mengacu pada beberapa referensi, penemu sepeda tidaklah satu orang, namun disempurnakan oleh banyak orang. Jika harus merunut inspirasi lahirnya sejarah sepeda, maka bisa dilacak sejak seniman kondang Leonardo Da Vinci menggambar sketsa lukisan sepeda dengan roda dua, di mana satu rodanya agak besar, sedang yang lainnya lebih kecil. Beberapa tokoh lain yang terkenal sebagai penemu sepeda adalah Comte de Sivrac yang mengendarai sepeda buatannya –yang diberi nama Velocifere– di Paris tahun 1791. Kemudian Karl Friedrich Christian Ludwig di Jerman tahun 1817. Sayangnya, bentuk sepeda mereka sangatlah sederhana. Konsep sepeda yang lebih modern justru dikembangkan pada tahun 1872 oleh James Starley di Inggris. Starley menciptakan pedal sehingga kecepatan sepedanya bisa ditambah. Ia menamakan sepedanya Ariel Highwheeler.

 

Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, sepeda menjadi kenderaan paling populer di Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Saat itu, sepeda menjadi kenderaan mewah yang identik dengan kaum bangsawan atau aristokrat baru. Meskipun saat itu industri sepeda motor mulai bangkit, namun popularitas sepeda justru tetap menjulang. Apalagi di tahun 1970-an, AS mengalami krisis energi, sehingga sepeda tetap menjadi primadona sebab tidak menelan biaya besar untuk energi.

 

Sejarah sepeda di Indonesia, bermula sejak masa kolonialisme Belanda. Dibukanya begitu banyak perkebunan serta kota-kota modern, membuat pemerintah kolonial Belanda memikirkan satu solusi untuk mengatasi masalah transportasi. Saat itu, sepeda menjadi andalan untuk menaklukan jalan-jalan kota besar seperti Batavia ataupun Paris Van Java (Bandung). Pada zaman Belanda, sepeda menjadi transportasi yang digratiskan di Kota Bogor dan Depok. Maksudnya, pemerintah menyiapkan banyak sepeda di beberapa tempat khusus di jalan raya. Siapapun warga yang hendak menggunakan sepeda, tinggal memakainya saja dan nanti diletakkan lagi pada tempat parkir di tempat khusus di jalan raya. Saat itu, tak ada pencuri sepeda, sebab sepeda adalah barang langka, sehingga jika dicuri, pasti akan ketahuan. Sepeda juga menjadi kenderaan para mahasiswa bumiputera di beberapa sekolah Belanda. Beberapa tokoh seperti Soekarno, Sjahrir hingga Hatta juga menggunakan sepeda di jalan-jalan utama Jakarta.

 

Bahkan, Soekarno kerap dikisahkan suka mengendarai sepeda dengan kencang, sebagaimana kencangnya sepeda yang dikayuh tukang ojek yang kunaiki ini. Kalau persoalan ini, aku angkat topi. Meski tua, namun persoalan kegesitan, pantas diacungi jempol. Bayangkan saja, Bang Jali ini begitu lihai menjalankan sepeda di tengah-tengah lalu lintas kenderaan bermotor. Di saat hendak menikung, ia menoleh dulu ke belakang –sebab tak punya spion—kemudian berbelok secara tajam. Ciittt!!!! Awas!!! Ada suara keras. Aku tersentak dan langsung menoleh ke belakang. Bunyi ban mobil berdecit nyaring, tepat di belakang sepeda yang kukendarai. Pengemudi mobil itu menggerutu saat memandang ke arah kami. Ia nyaris menabrak kami. Namun, Bang Jali hanya nyengir saja. Hey…. wajahku pucat pasi.

 

 

Depok, 4 Oktober 2007

Pukul 17.31 (jelang buka puasa)

 

 

from kosmik_uh@yahoogroups.com

posted by

K’ Yusran Darmawan
timurangin@yahoo.com

JAUH sebelum menaklukan Sultan Hasanuddin di Selat Buton, Arung Palakka adalah seorang jagoan tanpa tanding yang ditakuti di seantero Batavia. Lelaki gagah berambut panjang dan matanya menyala-nyala ini memiliki nama yang menggetarkan seluruh jagoan dan pendekar di Batavia. Keperkasaan seakan dititahkan untuk selalu bersemayam bersamanya. Pria Bugis dengan badik yang sanggup memburai usus ini sudah malang melintang di Batavia sejak tahun 1660, ketika ia bersama pengikutnya melarikan diri dari cengkeraman Makassar.

Batavia di abad ke-17 adalah arena di mana kekerasan seakan dilegalisir demi pencapaian tujuan. Di masa Gubernur Jenderal Joan Maetsueyker, kekerasan adalah udara yang menjadi napas bagi kelangsungan sistem kolonial. Kekerasan adalah satu-satunya mekanisme untuk menciptakan ketundukan pada bangsa yang harus dihardik dulu agar taat dan siap menjadi sekrup kecil dari pasang naik kolonialisme Eropa. Kekerasan itu seakan meneguhkan apa yang dikatakan filsuf Thomas Hobbes bahwa manusia pada dasarnya jahat dan laksana srigala yang saling memangsa sesamanya. Pada titik inilah Arung Palakka menjadi seorang perkasa bagi sesamanya.

Aku menemukan nama Arung Palakka saat membaca sebuah arsip di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Barusan, aku juga membaca sebuah novel yang berisikan data sejarah tentang Batavia di masa silam dengan sejarah kelam yang membuat bulu kuduk bergidik. Selama beberapa hari ini, sejarah Batavia seakan berpusar terus di benakku. Berbagai referensi itu menyimpan sekelumit kisah tentang pria yang patungnya dipahat dan berdiri gagah di tengah Kota Watampone.

Arung Palakka adalah potret keterasingan dan menyimpan magma semangat yang menggebu-gebu untuk penaklukan. Ia terasing dari bangsanya, bangsa Bugis yang kebebasannya terpasung. Namun, ia bebas sebebas merpati yang melesat dan meninggalkan jejak di Batavia. Ia sang penakluk yang terasing dari bangsanya. Malang melintang di kota sebesar Batavia, keperkasaannya kian membuncah tatkala ia membangun persekutuan yang menakutkan bersama dua tokoh terasing lainnya yaitu pria Belanda bernama Cornelis Janszoon Speelman dan seorang Ambon yang juga perkasa bernama Kapiten Jonker. Ketiganya membangun persekutuan rahasia dan memegang kendali atas VOC pada masanya, termasuk monopoli perdagangan emas dan hasil bumi.

Ketiga tokoh yang teralienasi ini adalah horor bagi jagoan di masa itu. Speelman adalah petinggi VOC yang jauh dari pergaulan VOC. Dia tersisih dari pergaulan karena terbukti terlibat dalam sebuah perdagangan gelap saat masih menjabat sebagai Gubernur VOC di Coromandel tahun 1665. Arung Palakka adalah pangeran Bugis yang hidup terjajah dan dalam tawanan Makassar. Ia memberontak dan bersama pengikutnya melarikan diri ke Batavia. VOC menyambutnya dengan baik dan memberikan daerah di pinggiran Kali Angke, hingga serdadu Bugis ini disebut To Angke atau orang Angke. Sedang Kapiten Jonker adalah seorang panglima yang berasal dari Pulau Manipa, Ambon.  Dia punya banyak pengikut setia, namun tidak pernah menguasai satu daerah di mana orang mengakuinya sebagai daulat. Akhirnya dia bergabung dengan VOC di Batavia. Rumah dan tanah luas di daerah Marunda dekat Cilincing diberikan VOC kepadanya.

Baik Speelman, Arung Palakka, dan Kapiten Jonker sama-sama berangkat  dari hal yang sama yaitu keterasingan. Ketiganya punya sejarah penaklukan yang membuat nama mereka menjadi legenda. Speelman menjadi legenda karena berhasil membuat Sultan Hasanuddin bertekuk lutut di Makassar dalam sebuah perlawanan paling dahsyat dalam sejarah peperangan yang pernah dialami VOC. Bersama Arung Palakka, Speelman menghancurkan Benteng Sombaopu yang menjadi momok bagi VOC serta rintangan (barikade) untuk menguasai Indonesia timur, khususnya jalur rempah- rempah Maluku, pada bulan November 1667.

Arung Palakka sangat populer sebab berhasil menaklukan Sumatra dan membumihanguskan perlawanan rakyat Minangkabau terhadap VOC. Arung Palakka menyimpan dua sisi diametral: di satu sisi hendak membebaskan Bugis, namun di sisi lain justru menaklukan daerah lain di Nusantara. Kisahnya berawal pada tahun 1662, dibuat perjanjian antara VOC dengan pemimpin Minangkabau di Padang. Perjanjian yang kemudian di sebut Perjanjian Painan itu bertujuan untuk monopoli dagang di pesisir Sumatera, termasuk monopoli emas Salido. Sayang, rakyat Minang mengamuk pada tahun 1666 dan menewaskan perwakilan VOC di Padang bernama Jacob Gruys. Arung Palakka kemudian dikirim ke situ dalam ekspedisi yang dinamakan Ekspedisi Verspreet. Bersama pasukan Bugis, ia berhasil meredam dan mematikan perlawanan rakyat Minangkabau hingga menaklukan seluruh pantai barat Sumatera, termasuk memutus hubungan Minangkabau dengan Aceh. Kekuasaan VOC diperluas hingga Ulakan di Pariaman. Di tempat inilah, Arung Palakka diangkat sebagai Raja Ulakan.

Sedang Kapiten Jonker punya reputasi menangkap Trunojoyo dan diserahkan pada pegawai keturunan VOC keturunan Skotlandia, Jacob Couper. Tiga tokoh yaitu Speelman, Arung Palakka, dan Kapiten Jonker telah menaklukan Nusantara di Barat, Tengah, dan Timur.  Mereka punya andil besar untuk mengantarkan VOC pada puncak kejayaannya pada masa Gubernur Jenderal Joan Maetsuyker. Tidak heran kalau ketiga tokoh ini menjadi tulang punggung kekuatan VOC pada masa itu. Maetsueyker tidak berani menolak permintaan ketiganya sebab mereka punya bala tentara yang besar. Di luar ketiganya, ia hanya mengandalkan serdadu bayaran multibangsa dengan loyalitas yang rendah. Akibat kekuasaan yang besar serta penguasaan monopoli emas ini, Speelman berhasil menjadi Gubernur Jenderal VOC pada tahun 1681.

Sayangnya, kisah menakjubkan dari tiga jagoan Batavia ini harus berakhir dalam waktu yang tidak lama. Musuh Speelman yaitu perwira asal Perancis bernama Isaac de¢lOrnay de Saint Martin langsung bergerak. Komandan perang yang memenangkan peperangan di Cochin, Colombo, Ternate, Buton, Jawa Timur, dan Jawa Barat ini, berhasil mengungkap semua korupsi dan keculasan Speelman hingga akhirnya Speelman disingkirkan dari posisi Gubernur Jenderal. Isaac juga berhasil mempengaruhi Gubernur Jenderal Champuys untuk menyingkirkan Kapiten Jonker. Wilayah kekuasaan pria Ambon ini di Pejonkeran Marunda dikepung, kemudian diserang. Kapiten Jonker tewas terbunuh dalam penyerbuan itu. Kepalanya dipancung dan dipertontonkan. Pengikutnya dibunuh dan keluarganya diasingkan ke Colombo dan Afrika.

Sedang Arung Palakka disingkirkan secara halus dengan cara memasung langkahnya untuk tetap menjadi Raja Bone, kemudian kekuasaannya dikontrol dari Benteng Rotterdam. Pria Bugis ini dijauhkan dari hiruk-pikuk politik di Batavia sehingga kehilangan semua kuasa dan pengaruh besarnya di jantung kekuasaan VOC. Ia seakan diasingkan agar tidak lagi membangun networking atau jaringan dengan bala tentaranya di Batavia. Hingga akhirnya Arung Palakka kesunyian dan menjemput ajalnya di bumi Sulawesi. Namun, namanya telah terpatri sebagai jagoan tanpa lawan di tanah Batavia.(*)

from kosmik_uh@yahoogroups.com

posted by

K’ Yusran Darmawan
timurangin@yahoo.com

Mungkin Anda menduga, udara yang akhir-akhir ini makin panas, bukanlah suatu
masalah yang perlu kita risaukan.

 
“Mana mungkin sih tindakan satu-dua makhluk hidup di jagat semesta bisa
mengganggu kondisi planet bumi yang mahabesar ini?” barangkali begitulah
Anda berpikir.
Baru-baru ini, Inter-governmental Panel on Cimate Change (IPCC)
memublikasikan hasil pengamatan ilmuwan dari berbagai negara. Isinya sangat
mengejutkan. Selama tahun 1990-2005, ternyata telah terjadi peningkatan suhu
merata di seluruh bagian bumi, antara 0,15 � 0,3o C. Jika peningkatan suhu
itu terus berlanjut, diperkirakan pada tahun 2040 (33 tahun dari sekarang)
lapisan es di kutub-kutub bumi akan habis meleleh. Dan jika bumi masih terus
memanas, pada tahun 2050 akan terjadi kekurangan air tawar, sehingga
kelaparan pun akan meluas di seantero jagat. Udara akan sangat panas, jutaan
orang berebut air dan makanan. Napas tersengal oleh asap dan debu.
Rumah-rumah di pesisir terendam air laut. Luapan air laut makin lama makin
luas, sehingga akhirnya menelan seluruh pulau. Harta benda akan lenyap,
begitu pula nyawa manusia.

 

*Di Indonesia, gejala serupa sudah terjadi*. Sepanjang tahun 1980-2002, suhu
minimum kota Polonia (Sumatera Utara) meningkat 0,17o C per tahun.
Sementara, Denpasar mengalami peningkatan suhu maksimum hingga 0,87 o C per
tahun. Tanda yang kasatmata adalah menghilangnya salju yang dulu menyelimuti
satu-satunya tempat bersalju di Indonesia , yaitu Gunung Jayawijaya di
Papua.

 
Hasil studi yang dilakukan ilmuwan di Pusat Pengembangan Kawasan Pesisir dan
Laut, Institut Teknologi Bandung (2007), pun tak kalah mengerikan. Ternyata,
permukaan air laut Teluk Jakarta meningkat setinggi 0,8 cm. Jika suhu bumi
terus meningkat, maka diperkirakan, pada tahun 2050 daera-daerah di Jakarta
(seperti : Kosambi, Penjaringan, dan Cilincing) dan Bekasi (seperti :
Muaragembong, Babelan, dan Tarumajaya) akan terendam semuanya.

 
Dengan adanya gejala ini, sebagai warga negara kepulauan, sudah seharusnya
kita khawatir. Pasalnya, pemanasan global mengancam kedaulatan negara. Es
yang meleleh di kutub-kutub mengalir ke laut lepas dan menyebabkan permukaan
laut bumi � termasuk laut di seputar Indonesia � terus meningkat.
Pulau-pulau kecil terluar kita bisa lenyap dari peta bumi, sehingga garis
kedaulatan negara bisa menyusut. Dan diperkirakan dalam 30 tahun mendatang
sekitar 2.000 pulau di Indonesia akan tenggelam. Bukan hanya itu, jutaan
orang yang tinggal di pesisir pulau kecil pun akan kehilangan tempat
tinggal. Begitu pula asset-asset usaha wisata pantai.

 
Peneliti senior dari Center for International Forestry Research (CIFOR),
menjelaskan, pemanasan global adalah kejadian terperangkapnya radiasi
gelombang panjang matahari (disebut juga gelombang panas / inframerah) yang
dipancarkan bumi oleh gas-gas rumah kaca (efek rumah kaca adalah istilah
untuk panas yang terperangkap di dalam atmosfer bumi dan tidak bisa
menyebar). Gas-gas ini secara alami terdapat di udara (atmosfer). Penipisan
lapisan ozon juga memperpanas suhu bumi. Karena, makin tipis lapisan lapisan
teratas atmosfer, makin leluasa radiasi gelombang pendek matahari (termasuk
ultraviolet) memasuki bumi. Pada gilirannya, radiasi gelombang pendek ini
juga berubah menjadi gelombang panas, sehingga kian meningkatkan konsentrasi
gas rumah kaca tadi.

 
Karbondioksida (CO2) adalah gas terbanyak (75%) penyumbang emisi gas rumah
kaca. Setiap kali kita menggunakan bahan bakar fosil (minyak, bensin, gas
alam, batubara) untuk keperluan rumah tangga, mobil, pabrik, ataupun
membakar hutan, otomatis kita melepaskan CO2 ke udara. Gas lain yang juga
masuk peringkat atas adalah metan (CH4,18%), ozone (O3,12%), dan
clorofluorocarbon (CFC,14%). Gas metan banyak dihasilkan dari proses
pembusukan materi organic seperti yang banyak terjadi di peternakan sapi.
Gas metan juga dihasilkan dari penggunaan BBM untuk kendaraan. Sementara
itu, emisi gas CFC banyak timbul dari sistem kerja kulkas dan AC model lama.
Bersama gas-gas lain, uap air ikut meningkatkan suhu rumah kaca.

 
Gejala sangat kentara dari pemanasan global adalah berubahnya iklim.
Contohnya, hujan deras masih sering datang, meski kini kita sudah memasuki
bulan yang seharusnya sudah terhitung musim kemarau. Menurut perkiraan,
dalam 30 tahun terakhir, pergantian musim kemarau ke musim hujan terus
bergeser, dan kini jaraknya berselisih nyaris sebulan dari normal. Banyak
orang menganggap, banjir besar bulan Februari lalu yang merendam lebih dari
separuh DKI Jakarta adalah akibat dari pemanasan global saja. Padahal 35%
rusaknya hutan kota dan hutan di Puncak adalah penyebab makin panasnya udara
Jakarta . Itu sebabnya, kerusakan hutan di Indonesia bukan hanya menjadi
masalah warga Indonesia , melainkan juga warga dunia. Direktur Eksekutif
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi), mengatakan, Indonesia pantas malu
karena telah menjadi Negara terbesar ke-3 di dunia sebagai penyumbang gas
rumah kaca dari kebakaran hutan dan pembakaran lahan gambut (yang diubah
menjadi permukiman atau
hutan industri). Jika kita tidak bisa menyelamatkan mulai dari sekarang, 5
tahun lagi hutan di Sumatera akan habis, 10 tahun lagi hutan Kalimantan yang
habis, 15 tahun lagi hutan di seluruh Indonesia tak tersisa. Di saat itu,
anak-anak kita tak lagi bisa menghirup udara bersih.

 
Jika kita tidak secepatnya berhenti boros energi, bumi akan sepanas planet
Mars. Tak akan ada satupun makhluk hidup yang bisa bertahan, termasuk
anak-anak kita nanti.

 

Cara-cara praktis dan sederhana ‘mendinginkan’ bumi :

 1. Matikan listrik.
(jika tidak digunakan, jangan tinggalkan alat elektronik dalam keadaan
standby. Cabut charger telp. genggam dari stop kontak.
Meski listrik tak mengeluarkan emisi karbon, pembangkit listrik PLN
menggunakan bahan baker fosil penyumbang besar emisi).

2. Ganti bohlam lampu (ke jenis CFL, sesuai daya listrik. Meski harganya
agak mahal, lampu ini lebih hemat listrik dan awet).

3. Bersihkan lampu (debu bisa mengurangi tingkat penerangan hingga 5%).

4. Jika terpaksa memakai AC (tutup pintu dan jendela selama AC menyala. Atur
suhu sejuk secukupnya, sekitar 21-24o C).

5. Gunakan timer (untuk AC, microwave, oven, magic jar, dll).

6. Alihkan panas limbah mesin AC untuk mengoperasikan water-heater.

7. Tanam pohon di lingkungan sekitar Anda.

8. Jemur pakaian di luar. Angin dan panas matahari lebih baik ketimbang
memakai mesin (dryer) yang banyak mengeluarkan emisi karbon.

9. Gunakan kendaraan umum (untuk mengurangi polusi udara).

10. Hemat penggunaan kertas (bahan bakunya berasal dari kayu).

11. Say no to plastic.
Hampir semua sampah plastic menghasilkan gas berbahaya ketika dibakar. Atau
Anda juga dapat membantu mengumpulkannya untuk didaur ulang kembali.

12. Sebarkan berita ini kepada orang-orang di sekitar Anda, agar mereka
turut berperan serta dalam menyelamatkan bumi.

            

 

Nara sumber:
Hasbullah Idris <hasbullah_idris@yahoo.com>

Berangkat dari kepedulian akan kondisi dan perkembangan sebuah organisasi, tak ada salah jika kita mulai dari ikut andil di dalamnya. Kita perlu melangkah maju sebagai pijakan yang kuat guna mengembangkkan dan meraih potensi kita melalui organisasi yang dapat memberikan banyak pengalaman penting yang berkualitas.
Potensi maksimal bisa dicapai bila kita memiliki kemampuan dan kemauan. Kemampuan dapat di pelajari, namun kemauan harus digerakkan dari dalam diri sendiri.

Hubungan timbal-balik dalam team work atau pun dalam sebuah organisasi antar divisi harus selalu diwujudkan untuk menciptakan katalis-katalis baru yang dapat memberikan kombinasi serta referensi baru dalam berorganisasi.
Katalis adalah zat yang membuat suatu reaksi kimia dapat berlangsung lebih cepat tanpa zat itu sendiri mengalami perubahan. Dalam sebuah organisasi, katalis bisa diartikan sebagai seseorang yang membuat suatu perubahan penting atau kegiatan tertentu agar tujuan yang diinginkan menjadi kenyataan.

Pada fase pertama kepengurusan dalam sebuah organisasi, kita dituntut untuk jeli dalam mengidentifikasi dan mengatur strategi agar apa yang menjadi visi dan misi dapat tercapai.begitu pun pada fase-fase berikutnya.

Dengan komitmen tanggung jawab dan konsisten ,sebuah organisasi sudah dapat dikatakan memiliki investasi yang sangat berharga untuk kemajuan dalam berorganisasi. Namun, standarisasi dan transparansi juga merupakan acuan terpenting dalam menjalankan atau mendirikan sebuah organisasi.
Itu semua tak lepas dari semangat, kerja keras dan tanggung jawab yang harus selalu di pertahankan dalam diri setiap individu dalam membangun, menjalankan serta membesarkan sebuah organisasi. (shyarhys)

Don’t underestimate the power of the press, demikian judul sebuah artikel dalam Inco exchange. Terbitan berkala Inco Limited, Kanada. Atikel ini menekankan bahwa dalam mengelola reputasi perusahaan, hubungan dengan media menduduki peran yang sangat penting.

Dengan adanya artikel yang menyatakan bahwa hubungan dengan media menduduki peran yang sangat penting, terbuktilah bahwa media sangatlah dibutuhkan di kanca pengembangan reputasi setiap perusahaan. Bukan hanya pada perusahaan-perusahaan saja, namun media juga bisa mempengaruhi reputasi setiap individu terutama orang-orang yang namanya sudah di kenal di masyarakat luas.

Tulisan-tulisan yang dipublikasikan oleh media cetak, tentunya akan di baca oleh para pembaca yang dengan setia selalu menanti berita-berita terkini yang di muat di media-media cetak yang beredar.
Bahkan, media audio visual akan lebih cepat mengeluarkan berita-beritanya yang dapat langsung di tayangkan di televisi.Banyak hal yang akan di angkat dalam berita-berita tersebut, bisa saja hal-hal yang positif namun bisa juga sebaliknya yang tentu akan merusak reputasi dari obyek yang diberitakan.

Untuk itu sangatlah penting menjalin hubungan baik dengan media-media regional bahkan dengan media-media skala nasional yang beredar di sekitar kita. Bukan hanya pada media cetak, namun kerja sama serta hubungan baik juga perlu di bina pada media-media audio visual. [shyarhys]

Sampul Baruga edisi 16

sampul baruga edisi 16

 

dl-baruga1.jpg baruga edisi 16 (.pdf)

“Nak, kamu harus sekolah yang tinggi biar mudah dapat kerja…”

Begitulah pesan para orang tua kepada anaknya.

Sekolah merupakan hal yang wajib di Negara ini. Hal itu telah tertulis dengan rapi pada pembukaan UUD 45 yang merupakan hak warga Negara serta kewajiban bagi pemerintah. Salah satu upaya pemerintah dalam memberikan hak warga negaranya dengan pengadaan program wajib belajar sembilan tahun. Tapi apakah sekolah hanya sampai pada titik sembilan tahun? Dan setelah itu apa yang akan kita lakukan, mencari pekerjaan? apakah memang sekolah merupakan syarat untuk mencari pekerjaan? Bukankah bersekolah dan bekerja sama sekali tidak ada hubungannya.. dan apakah….. (silahkan lanjutkan sendiri)


kata sekolah berasal dari bahasa yunani yaitu ‘scolae’ yang mempunyai arti ‘waktu luang’. Para orang tua di yunani pada saat itu mengisi ‘waktu luang’ anaknya dengan bermain serta mengajarkan berbagai hal mengenai kehidupan. Sampai pada saat orang tua tidak mampu lagi meluangkan waktunya untuk anak mereka karena mulai disibukkan dengan pekerjaan maka dititiplah anak-anak tersebut kepada orang-orang yang mempunayi ilmu pengetahuan untuk mengisi waktu-waktu luang anaknya untuk beramain dan sesekali belajar. Orang-orang tersebut di beri nama ‘almamother’ yang berarti ‘ibu pengasuh’ yang sampai saat ini kita kenal dalam kata ‘ALMAMATER’ dengan berbagai warna.


Anak-anak tersebut kemudian diasuh dan diberikan bekal pengetahuan oleh almamother. Ketika para orang tua telah selesai bekerja, anak-anak tersebut dijemput untuk kembali kerumah. Tak ada tempat khusus dalam mengasuh anak-anak tersebut. Pengasuhan boleh dilakukuan dimana saja, entah itu di rumah, di pinggir-pinggir jalan kota ataupun di kebun. Begitulah aktifitas warga yunani bertahun-tahun lamanya. Hingga seorang intelektual besar bernama Aristoteles yang dulunya juga melakukan aktifitas scolae bersama alamamater PLATO mengorganisasikan proses pengasuhan kedalam sebuah medium bernama ACADEMOS. Academos kemudian menjadi pusat pengasuhan dimana para almamater berkumpul dan para orang tua mulai menggiring anaknya ke academos. Di academos pulalah anak-anak di berikan ilmu pengetahuan sesuai dengan tingkatan umur serta pengetahuan yang diinginkan.

Hal yang menarik bahwa academos tidak mempunya tempat yang khusus. Masih dengan tradisi yang lama dimana academos bisa di langsungkan dimana saja. Academos ilmu pertanian dilakukan di sawah/kebun, academos ilmu kelautan dilakukan di laut/pantai, academos ilmu social dilakukan di jalanan dan lainnya.


Dan hari ini dikampung kita (bukan yunani tentunya) berbagai scolae dan academos yang disesuaikan dengan ejaan yang disempurnakan menjadi sekolah dan akademi tumbuh dengan pesat. Anak-anakpun setiap pagi berbondong-bondong menuju keruang-ruang berdinding tembok dimana gambar presiden dan wakilnya terpampang lengkap dengan burung garudanya serta beberapa potret pahlawan. Didalamnya terdapat bangku serta meja. Anak-anak wajib membawa pensil dan kertas untuk mencatat setiap kata yang keluar dari mulut guru. Anak-anakpun wajib memiliki buku cetakan pabrik berisi berbagai jenis mata pelajaran yang dijual oleh pihak sekolah. Jika bel tanda masuk telah berbunyi maka bergegaslah anak-anak masuk ruang kelas karena jika terlambat akan dihukum oleh guru.


Begitulah anak-anak Indonesia menghabiskan waktunya sekitar 13 tahun (9 tahun wajib) dan mungkin ditambah sekitar 5-7 tahun di ruang-ruang kuliah. Kalau dijumlahkan mungkin sekitar 20 tahun, itupun kalau si anak tidak tinggal kelas. Waktu yang cukup lama tentunya. Lalu, apa yang didapatkan setalah 20 tahun bangun pagi-pagi? Jawabnya, 4 lembar kertas karton berjudul STTB yang lebih keren diistilahkan dengan IJAZAH disertai foto diri berukuran 3×4 yang dicetak kilat, biaya cetaknyapun ditanggung oleh orang tua.


Sekolah hari ini sungguh sangat identik dengan sebuah tempat yang lapang dimana gedung-gedung dibangun didalamnya, terdiri dari ruang kelas, ruang guru/dosen, ruang kepsek/rector, bangku-bangku, pakaian seragam, sepatu seragam, buku seragam, jadwal seragam, mata pelajaran seragam, potongan rambut seragam samapai-sampai otak juga ikutan seragam. Bagaimana tidak, anak-anak Indonesia dijejalkan ilmu pengetahuan yang sama tiap tahunnya oleh pemerintah dalam kurikulum yang telah disempurnakan tanpa pernah bertanya apa sebenarnya bakat serta keinginan si anak. Parahnya lagi, mata pelajaran/kuliah yang ada pada kurikulum yang disempurna-sempurnakan tipa tahun harus diulang-ulang oleh (maha)siswa. Sepertinya tak ada pelajaran baru ataupun pengetahuan yang berkembang. Sebagai contoh, sejak kelas 4 SD siswa mulai dikenalkan dengan pengetahuan sejarah zaman batu yang katanya PITECANTROPUS ERECTUS hidup. Memasuki SMP kelas 1 kembali PITECANTROPUS ERECTUS muncul di buku catatan siswa. Masuk SMA, PITECANTROPUS ERECTUS menjelma di papan tulis dan terakhir di bangku kuliah semester awal, PITECANTROPUS ERECTUS muncul dengan gagahnya dari sinar LCD para dosen. Sungguh memilukan melihat kejadian tersebut. Sepertinya kemampuan otak anak kelas 4 SD di Indonesia sama persis dengan kemampuan otak mahasiswa semester awalanya. Bahkan tidak mungkin PITECANTROPUS ERECTUS hadir di bangku Pascasarjana. Kalaupun tidak HOMO SAPIENS dipastikan hadir.


Sekolah pada akhirnya bukan tempat menghabiskan waktu luang karena waktu luang tidak terikat dengan jadwal jam pelajaran, istirahat, jam pulang, serta waktu mengerjakan PR. Entah berapa banyak siswa yang ogah-ogahan pergi sekolah karena jemu di sodorkan sedikitnya 12 mata pelajaran. Dari sekian banyak mata pelajaran tersebut, tak satupun yang terselesaikan dengan tuntas. Karena sekali lagi mata pelajaran yang ada hanya diulang dan diulang tanpa ada usaha untuk pengembangan ataupun riset yang lebih lanjut. Begitupun setelah pulang sekolah. Siswa bosan dengan berbagai pekerjaan rumah yang menumpuk. waktu luang yang dimaknai oleh orang-orang yunani terdahulu tentunya tak ada lagi. Semua waktu harus dihabiskan secara mekanik untuk mempelajari semua mata pelajaran serta mengerjakan tugas tanpa pernah tau dimana, bagaimana serta kapan semua hal diterapkan.


Waktu luang anak-anak Indonesia telah direnggut oleh pemerintah. Jika ingin mengambilnya kembali maka orang tua diwajibkan membayar SPP. SPPpun belum cukup. Ada uang pangkal, biaya seragam, biaya buku mata pelajaran, biaya laboratorium, biaya kesehatan, keamanan, kebersihan, ketertiban, biaya ini itu dan terakhir jika ingin lulus harus bayar biaya ujian. Semuanya harus di beli dan di tangung oleh orang tua. Belum lagi jika anak mulai malas kesekolah karena tak dibelikan sepatu serta tas baru yang dilihat di pakai oleh anak-anak di iklan TV, Dan jangan lupa anak-anak tak akan bersekolah jika dia harus mengeluarkan air liur melihat teman-temannya menyantap makanan ringan berpengawet dari kantin yang dikelolah oleh koperasi sekolah.


Sekolah di Indonesia tak lain adalah pabrik untuk menghasilkan generasi yang malas-malasan serta tak cukup mampu bertahan di dunia nyata diluar tembok pembatas sekolah. Pabrik yang bertujuan hanya meraup keuntungan sebanyak banyaknya dari siswa yang mengisi formulir pendaftaran. Alasannya cukup klasik dan aneh, sekolah butuh biaya operasional. Lalu, dimana peran pemertintah yang jelas-jelas dalam UUD mempunyai kewajiban ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’?


Pemerintah seakan lepas tanggung jawab dari fenomena besar ini. Subsidi pendidikan mulai dikurangi secara drastis. Anggaran dari APBN yang katanya 20% diperuntukkan untuk pendidikan tak pernah mencapai target, setengahnya pun tidak. Parahnya lagi, kebijakan pemerintah menyangkut pendidikan sangat-sangat mengecewakan. Perguruan Tinggi Negri (PTN) perlahan-lahan dijadikan PTNsS (Perguruan Tinggi Negri setengah Swasta) dengan penerapan BHP (Badan Hukum Pendidikan) dimana pihak pengelola perguruan tinggi di beri kebebasan dalam mengelola asset (baca:mahasiswa)nya tanpa ada campur tangan lagi dari pemerintah. Hal ini jelas merupakan sebuah raport merah bagi kelangsungan pendidikan di Indonesia. Buntutnya, biaya masuk dan mengikuti perkuliahan pada universitas melonjak tak terkendalai karena sekali lagi pendidikan tak lebih dari pabrik komersil yang berasaskan laba sebesar-besarnya. Rakyat Indonesia yang kemampuan ekonominya jauh di bawah rata-rata tak mampu lagi mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.


Pegetahuan adalah sumber kebaikan. Olehnya, Pendidikan adalah sebuah harga mati bagi setiap manusia yang ada di muka bumi. Tanpa adanya pengetahuan manusia tak mampu lagi membedakan baik buruk. Maka sangat wajarlah ketika stsiun TV bangsa ini setiap hari tanpa henti-hentinya dalam headline news berisi berita buruk. Pengetahuan telah direnggut dari setiap diri manusia-manusia Indonesia oleh pemerintahnya sendiri kerena sekolah kita bukan lagi sebuah sekolah.

 

*untuk mereka yang diasikkan oleh waktu luang di ruang kelas kehidupan
-giezkaluvorsky-

 

Iklan Layanan Baruga16

iklan layanan baruga

mari menjawab…

Our Community …

SEPARUH NAFAS PENERBITAN KOMUNITAS KAMPUS

Sesuai dengan keberadaannya di lingkungan kampus, Pers mahasiswa punya spesifikasi tersendiri yang menjadi salah satu faktor pembedaan dengan Pers pada umumnya. Faktor pembeda lain yang dapat dilihat adalah siapa orang yang berada di belakangnya, atau dengan kata lain siapa yang menjadi roda gigi hingga penerbitan yang berada di lingkungan kampus tersebut masih sanggup bertahan, walaupun boleh di bilang dengan setengah nafas. Mengapa dikatakan setengah nafas ? mungkin jawaban yang mampu mewakili adalah dengan niat dan tekad yang kadang timbul tenggelam serta kemampuan ekonomi yang sering menjadi kendala utama penerbitan komunitas kampus untuk terus hadir dalam bentuk fisik ( dalam hal ini berupa cetakan).

Keadaan ini hampir dirasakan oleh semua penerbitan komunitas dalam lingkungan kampus. Sebut saja Penerbitan Channel 9, setelah mendengar nama ini pasti setiap orang langsung teringat akan Fakultas Teknik. Channel 9 melambangkan sebuah makna yang tentunya sangat identik dengan tempat dimana lembaga ini berada, kata Channel sendiri berarti saluran yang melambangkan wadah atau tempat penampungan aspirasi, sedangkan 9 merupakan petunjuk bahwa Teknik adalah fakultas kesembilan yang ada di Universitas Hasanuddin. Selain itu, angka 9 dapat juga diartikan sebagai angka tertinggi sebelum sepuluh yang hampir mendekati kesempurnaan.

Pada dasarnya, penerbitan komunitas hadir di lingkungan kampus untuk memuaskan dahaga pihak yang menjadi komunitasnya untuk mengetahui kejadian apa lagi yang patut atau layak untuk di ketahui, dan penerbitan komunitas kampus lah yang berfungsi sebagai mediatornya. Hal inilah yang dilakukan oleh segenap redaksi yang bertugas di balik redaksi Channel 9, redaksi bertugas menyampaikan hal apa saja yang akan ataupun telah dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Teknik. Tujuannya agar supaya segenap mahasiswa Teknik yang tak lain adalah komunitas pembaca Channel 9 juga mengetahuinya, ungkap Adam selaku Pimpinan Perusahaan Channel 9.

Tetapi apa yang terjadi? Channel 9 terkadang hadir hanya pada saat momen tertentu saja dan penghambatnya adalah masalah keuangan yang berasal dari swadaya tim redaksi. Keinginan untuk merealisasikan suatu ide dalam bentuk cetakan terpaksa harus mengalami penundaan disesuaikan dengan waktu kapan kantong terisi kembali.

Hal senada juga diungkapkan oleh Adi, seorang Pimpinan Perusahaan Tabloid Akademika di Jurusan Ilmu Komunikasi ,Universitas Veteran Republik Indonesia (UVRI). Kehadiran tabloid yang ditujukan bagi komunitas mahasiswa UVRI ini sering mengalami pasang surut karena masalah klasik yaitu pendanaan. “…tujuan penerbitan komunitas kampus itu umumnya hendak menyampaikan apa yang menjadi kebutuhan pembacanya, dan saya yakin faktor utama terbitnya sebuah majalah ataupun tabloid di lingkungan kampus sering mengalami keterlambatan pasti terkendala dana” tambah Adi.

Khusus untuk tabloid Akademika, redaksi berusaha mencari jalan keluar agar supaya pendanaan dapat segera diatasi. Akhirnya jalan keluar yang diperoleh adalah menerima iklan dari pihak luar dan ternyata solusi tersebut cukup berhasil mengatasi masalah dana tersebut.

Itulah segelintir kisah perjalanan Penerbitan Komunitas kampus yang hingga saat ini sering separuh nafas dalam mempertahankan eksistensinya di lingkungan kampus. Akan tetapi, apapun itu Penerbitan Komunitas Kampus harus selalu merasa yakin bahwa ideologi dan semangat juang tidak boleh hilang karena ada tugas mulia yang diemban yaitu keinginan untuk selalu hadir melepas dahaga komunitasnya dan pastinya selalu menyuarakan kebenaran .

VIVA JURNALISTIK (singiku&team)

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.